KOMISI PENANGGULANGAN  AIDS DIY

Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (KPA DIY) didirikan pada tahun 2013 berdasarkan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 101/KEP/2013 Tentang Pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Istimewa Yogyakarta. KPA DIY adalah lembaga non struktural pemerintah yang dibentuk untuk melakukan koordinasi yang berfokus pada isu penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pimpinan tertinggi KPA DIY adalah Ketua yaitu Wakil Gubernur DIY, yang dibantu oleh pelaksana harian, sekretaris pelaksana, empat bidang yaitu bidang pelayanan dan rehabilitasi, bidang penelitian dan pengembangan, bidang harm reduction dan lembaga permasyarakatan, serta bidang promosi dan pencegahan.

 

Inovasi: Inovasi ‘EKSTRIM’ (Education, Counselling, Screening, Outreach, Linkage to Care Mobile) sebagai Teknologi Tanggap Darurat dan Kesiapsiagaan HIV/AIDS pada Situasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 

 

EKSTRIM (Education, Counselling, Screening, Outreach, Linkage to Care Mobile) merupakan strategi inovasi pemberdayaan masyarakat dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi berbasis mobile. Inovasi ini tepat guna memberikan kemudahan sebagai alat bantu media informasi dan komunikasi selama pandemi COVID-19 yang tanggap darurat dan siaga bencana dikarenakan adanya kebijakan pembatasan aktivitas fisik.

 

Tentang Ide inovasi: memiliki konsep gotong royong yang merupakan simbol kearifan lokal budaya Jawa, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini dikarenakan dalam penanggulangan HIV/AIDS melibatkan partisipasi lintas sektoral yang saling bersinergi, baik level individu, kelompok, maupun masyarakat. Oleh sebab itu, dalam penerapan inovasi EKSTRIM ke masyarakat akan melibatkan LSM, Warga Peduli AIDS, dan kader yang terlebih dahulu mendapatkan pelatihan. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat umum dan kelompok resiko tinggi HIV/AIDS (populasi kunci, disabilitas, remaja, dan lansia) dengan edukasi dan konseling dengan RS/Puskesmas layanan HIV; serta meningkatkan kesadaran diri untuk skrining gejala HIV/AIDS. Konten edukasi menyesuaikan dari kebutuhan masyarakat dan bersifat interaktif menggunakan audiovisual dan games. Khusus bagi kaum disabilitas, inovasi ini juga memberikan kemudahan akses dengan adanya bahasa isyarat. Selain itu, juga memudahkan LSM HIV/AIDS untuk melakukan penjangkauan (outreach) menggunakan pemetaan kluster dari sistem indikasi geografis berdasarkan hasil skrining mandiri yang dilakukan. Apabila terdeteksi risiko tinggi, maka LSM akan dengan mudah menyarankan klien tersebut untuk melakukan tes HIV, dan mendapatkan pendampingan minum obat dengan pemantauan yang optimal melalui fitur linkage to care. Inovasi HIV/AIDS dengan pemanfaatan teknologi yang terintegrasi semacam ini belum pernah dikembangkan di Indonesia, khususnya DIY. Sehingga hal ini merupakan peluang untuk dapat diterapkan dan dikembangkan untuk menjawab tantangan target Three Zeroes HIV/AIDS yang tanggap darurat dan siaga bencana selama pandemi COVID-19 karena dapat berfungsi sebagai database dalam perencanaan program HIV/AIDS darurat ketika terjadi bencana. Pada kegiatan IDEAKSI ini, selain melakukan implementasi penerapan inovasi, kami juga mengukur efektifitas program, efikasi intervensi, serta evaluasi penerapan inovasi EKSTRIM saat bencana pandemi COVID-19.